Esai · Tadabbur

Arafah: Sebuah Perjalanan untuk Kembali Kecil

Tentang kerinduan manusia kepada kebesaran Allah.

Hari ini jutaan manusia berhenti di satu tempat bernama Arafah. Tidak ada bangunan megah. Tidak ada simbol kejayaan. Tidak ada kemewahan yang pantas dibanggakan. Hanya manusia — dengan pakaian sederhana dan wajah yang lelah, dengan doa-doa yang mungkin sudah lama dipendam.

Entah mengapa, di tempat itu, banyak hati tiba-tiba mudah menangis. Mungkin karena manusia sesungguhnya memang lelah. Lelah menjadi besar. Lelah terlihat kuat. Lelah memikul banyak hal yang terlalu lama dibesarkan dalam hidupnya: karier, nama baik, ketakutan masa depan, luka masa lalu, ekspektasi manusia, rasa ingin dihargai, kecemasan tentang rezeki.

Kadang kita tidak sadar, hidup perlahan membuat hati sibuk membesarkan terlalu banyak hal — hingga Allah tidak lagi terasa paling besar di dalam diri. Padahal jauh di dasar hati, manusia sesungguhnya punya satu kebutuhan yang sama: ingin bersandar pada sesuatu yang benar-benar besar. Karena manusia tidak diciptakan untuk memikul dunia sendirian.

Ada saat ketika jiwa merasa penuh. Ada masa ketika logika tidak lagi mampu menenangkan. Ada titik ketika manusia sadar, ternyata uang tidak cukup memberi tenang, jabatan tidak selalu memberi rasa aman, dan pengakuan manusia tidak otomatis membuat hati utuh.

Seakan Allah memanggil manusia untuk berhenti sejenak

Itulah sebabnya Arafah terasa begitu berbeda. Seakan Allah sedang memanggil manusia untuk berhenti sejenak. Bukan untuk menjadi besar. Tetapi untuk kembali kecil.

ذَٰلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ ٱللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى ٱلْقُلُوبِ
“Barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu berasal dari ketakwaan hati.”
QS. Al-Hajj : 32

Inti dari perjalanan ini memang bukan sejauh apa kaki melangkah, tetapi sejauh apa hati kembali menemukan kebesaran Allah.

Takbir Umar di Mina

Di Mina, ada kisah yang terasa sangat manusiawi tentang Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. Umar — seorang pemimpin besar, pribadi yang ditakuti musuh, penakluk dua kekuatan besar dunia — diriwayatkan bertakbir di tendanya. Lalu suara itu diikuti orang-orang di sekitarnya hingga bergemuruh seluruh Mina: Allahu Akbar… Allahu Akbar…

Mengapa Umar bertakbir sedemikian rupa? Mungkin karena Umar memahami sesuatu yang sering kita lupa: semakin besar seseorang, semakin ia membutuhkan Allah yang lebih besar daripada dirinya. Prestasi mudah membuat manusia merasa cukup. Pengaruh mudah membuat manusia lupa. Tapi Umar justru memilih menjadi kecil di hadapan Allah.

Sebab ada satu jebakan yang diam-diam tumbuh pada semua manusia: kita terlalu sering membesarkan sesuatu selain-Nya. Kadang kita membesarkan rasa takut — takut gagal, takut tidak dianggap, takut kehilangan, takut hidup tidak berjalan sesuai rencana.

أَلَيْسَ ٱللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُۥ
Alaysa Allāhu bikāfin ‘abdah
“Bukankah Allah cukup bagi hamba-Nya?”
QS. Az-Zumar : 36

Terlalu lama bersandar pada sesuatu yang kecil

Mungkin bukan hidup yang terlalu berat, tapi karena terlalu lama kita bersandar pada sesuatu yang kecil — lalu kecewa ketika ia runtuh. Kita bersandar pada manusia, lalu terluka. Bersandar pada uang, lalu gelisah. Bersandar pada citra diri, lalu lelah mempertahankannya.

Sementara hati sebenarnya hanya sedang rindu: rindu kepada sesuatu yang tidak pernah runtuh. Rindu kepada Allah.

Dan mungkin itu sebabnya di hari Arafah, banyak doa terasa berbeda. Manusia tidak lagi terlalu sibuk meminta dunia, tetapi mulai ingin pulang. Pulang dari kerasnya hati. Pulang dari kesombongan kecil yang tak disadari. Pulang dari rasa cukup terhadap diri sendiri.

لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّى كُنتُ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ
Lā ilāha illā anta subḥānaka innī kuntu minaẓ-ẓālimīn
“Tiada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau. Sungguh aku termasuk orang-orang yang zalim.”
QS. Al-Anbiyā : 87

Bukan karena kita selalu jahat, tetapi karena kita terlalu sering menzalimi diri sendiri: terlalu percaya pada kekuatan sendiri, terlalu takut pada dunia, dan terlalu sedikit membesarkan Allah di dalam hati.

Hari ini adalah hari Arafah. Dan mungkin yang paling dibutuhkan manusia bukan sekadar jawaban atas semua masalahnya, melainkan satu rasa yang lama hilang: merasakan Allah benar-benar Maha Besar. Karena ketika Allah kembali menjadi besar di dalam hati — masalah tidak selalu hilang, tetapi hati mulai terasa lebih lapang; ketakutan tidak selalu lenyap, tetapi jiwa tidak lagi mudah runtuh. Sebab menjadi kecil di hadapan Allah ternyata jauh lebih menenangkan daripada terlihat besar di hadapan manusia.

Wallāhu a‘lam bish-shawāb
👁️ dibaca

Ruang Tanggapan

Tinggalkan komentar di bawah ini, atau kirim tanggapan pribadi lewat tombol Komentar di atas.

← Kembali ke kumpulan esai