Bangsa yang terbuai janji kosong akan dipimpin oleh orang-orang yang menipu. Refleksi atas QS. An-Nisā’ 120.
Peristiwa amuk massa dan penjarahan rumah tokoh dewan hanyalah puncak gunung es dari kehidupan bangsa yang penuh tamanni — angan-angan kosong. Para wakil rakyat menebar janji manis untuk meraih kursi, sementara rakyat terbuai penampilan luar, flexing, dan amplop sesaat. Semua ini adalah cermin bagaimana kita hidup dalam ilusi janji palsu, sebagaimana digambarkan QS. An-Nisā’ 120: bahwa setan membangkitkan tamanni pada manusia, menjanjikan kebahagiaan dan kekuasaan, padahal semuanya hanyalah tipuan belaka.
Amuk massa dan penjarahan rumah beberapa anggota DPR menyisakan duka yang mendalam. Bukan tentang aksi kemarahan rakyat, tetapi tentang “alarm sosial” — bukti kesenjangan sosial yang semakin lebar. Massa yang mudah terpicu amarahnya adalah cermin bahwa rasa keadilan kian terkoyak. Jurang kaya-miskin makin melebar. Bangsa ini semakin suka flexing: pamer harta, menumpuk kekayaan, dan hidup hedonis. Seolah keberhasilan diukur dari rumah mewah, mobil mewah, dan pesta besar. Media sosial menjadikan semuanya tampak normal, padahal saat bersamaan masih ada rakyat yang makan saja susah. Bahkan kemiskinan dipelihara menjadi bahan konten dan amunisi politik lima tahunan.
Ayat ini tepat menggambarkan kondisi kita: janji setan itu manis di telinga, tetapi kosong dalam realita. Flexing memberi kesan kebahagiaan, tetapi di baliknya hanya kegelisahan dan kehampaan.
Fenomena yang sama juga terlihat jelas dalam dunia politik. Para wakil rakyat ketika pemilu seakan mengemis suara rakyat. Mereka hadir dengan senyum ramah, penampilan meyakinkan, bahkan tak segan menggelontorkan uang dalam serangan fajar. Apa yang mereka janjikan? Pendidikan murah, kesehatan mudah, kesejahteraan rakyat. Tetapi setelah terpilih, realitas berkata lain: janji itu hilang ditelan waktu, amanah berubah menjadi alat kekuasaan, dan rakyat hanya menjadi tangga menuju kursi, bukan tujuan utama perjuangan. Rakyat terbuai janji manis, sementara wakil rakyat terjebak dalam ilusi kekuasaan.
Lebih menyedihkan lagi, kita terbiasa dengan kebohongan ini. Rakyat sudah tahu janji itu tak akan ditepati, tapi tetap terbuai setiap lima tahun. Politisi sudah tahu rakyat mudah terpesona, maka janji diulang tanpa rasa malu. Bangsa ini hidup dalam siklus tipuan: janji → angan-angan → kekecewaan → amarah. Inilah yang membuat peristiwa amuk massa dan penjarahan bukan hanya tragedi sosial, melainkan cermin bahwa bangsa ini sedang dimakan janji setan secara kolektif.
Islam menegaskan bahwa pemimpin sejati dipilih karena amanah dan integritas, bukan karena glamour dan kemampuan tebar janji. Rasulullah ﷺ bersabda:
Namun yang terjadi sebaliknya: pemimpin tampil mempesona di panggung politik, tetapi melupakan tugas pelayanan. Rakyat pun salah menilai: bukan adu program yang jadi ukuran, melainkan seberapa indah baliho, seberapa tebal amplop, dan seberapa megah penampilan. Di sinilah ayat ini menjadi alarm keras: bangsa yang terbuai janji kosong akan dipimpin oleh orang-orang yang menipu. Akar persoalan sebenarnya ada pada budaya bangsa yang terbiasa dengan angan-angan kosong: politisi yang berjanji tanpa integritas, rakyat yang memilih karena terpesona penampilan, dan masyarakat yang menganggap kebohongan sebagai hal biasa.
QS. An-Nisā’ 120 mengingatkan: janji setan tidak lain hanyalah tipuan. Jalan keluar satu-satunya adalah kembali pada janji Allah — memilih amanah, menegakkan kejujuran, dan menolak budaya flexing serta janji palsu. Bangsa ini akan selamat hanya bila kembali pada nilai Qur’ani, bukan pada fatamorgana politik.
Tinggalkan komentar di bawah ini, atau kirim tanggapan pribadi lewat tombol Komentar di atas.