Berhenti menjadi manusia algoritma. Jadilah manusia yang dicelup oleh nilai Ilahi — kembalilah ke ṣibghatallāh.
Di tengah zaman yang gaduh, dunia bukan lagi tempat berpijak bagi orang yang mencintai kebenaran. Kita hidup dalam era disrupsi, tapi disrupsi ini bukan tanpa sebab, bukan pula datang karena takdir digital semata. Ia dirancang. Didesain. Dibiarkan terjadi agar kerusakan yang nyata bisa disembunyikan di balik riuh informasi yang tak terkendali. Di negeri ini, disrupsi telah menjelma menjadi alat kolonialisme baru: menjauhkan manusia dari akarnya, dari keberanian berpikir, dari keberpihakan pada kebenaran.
Manusia tidak lagi tahu bagaimana harus berpikir logis, bagaimana mencari kebenaran, dan kepada siapa harus berpihak. Di balik jargon “netralitas” dan “obyektivitas”, ada ketakutan massal untuk menyebut yang zalim sebagai zalim, dan yang benar sebagai benar.
Ayat ini bicara tentang penyebaran berita secara gegabah, yang dalam era sekarang tidak lagi dilakukan oleh manusia saja, tapi juga oleh algoritma. Mentalitas yang menyebar di tengah masyarakat adalah mentalitas ketakutan, kehilangan rujukan, dan hilangnya otoritas ilmu. Di masa disrupsi, otoritas keilmuan dan moral (ulil amri) mengalami krisis: orang lebih percaya influencer ketimbang ilmuwan, lebih percaya akun viral ketimbang pemimpin yang sah. Sekarang yang menyebarkan bukan cuma manusia gegabah, tapi juga algoritma yang memviralkan berita sensasional.
Zaman ini adalah zaman ketika kebenaran ditelan bumi dan keadilan dimanipulasi. Kebenaran bisa dibuat — oleh lembaga, media, atau kekuasaan. Keadilan direduksi menjadi bagi-bagi jabatan, direkonstruksi menjadi kompensasi bansos, dan dijadikan ilusi oleh propaganda politik. Kita menyaksikan realitas yang direkayasa, dan publik yang dibentuk oleh algoritma. Yang viral dianggap benar, yang populer dianggap berhak, yang banyak disukai dianggap adil. Inilah manusia algoritma.
Sayangnya, dalam banyak kasus, penyebar kabar bohong justru adalah penguasa, karena kesengajaan untuk menyembunyikan kerusakan dan menutupi kegagalan. Mereka memiliki kuasa atas narasi, kontrol terhadap media, dan instrumen algoritma digital untuk memproduksi realitas semu. QS. An-Nisā’ 83 menjadi tamparan bagi mereka yang memegang otoritas tapi justru menjadi produsen kebohongan. Ketika otoritas menyebarkan kepalsuan, maka kerusakan yang timbul bukan hanya pada sistem, tapi pada mentalitas kolektif masyarakat.
Manusia algoritma adalah manusia yang tidak lagi berpikir dari dalam dirinya, tapi menunggu disodori oleh beranda media sosialnya; tidak bergerak berdasarkan nilai, tapi berdasarkan klik, view, dan validasi luar; tidak lagi bertanya “apa yang benar”, tapi “apa yang aman”, “apa yang menguntungkan”, dan “apa yang tidak mengganggu nafkah saya.” Inilah penyakit zaman yang makin parah: kebenaran digantikan pembenaran, kejujuran digantikan pencitraan, keadilan digantikan kompromi.
Sibghatallāh adalah warna Ilahi, identitas ruhani, dan sistem nilai yang seharusnya mewarnai seluruh hidup manusia secara utuh — sebagaimana pakaian yang dicelup warna akan berubah menyeluruh. Ia adalah anti-algoritma, anti-palsu, anti-kompromi terhadap kebatilan. Manusia yang menerima ṣibghatallāh bukanlah yang tunduk pada popularitas, tapi tunduk pada kebenaran. Ia tidak menjual nuraninya untuk kenyamanan, tidak menukar keimanan demi kedudukan.
Jika kita ingin keluar dari krisis ini, maka kita harus meninggalkan status sebagai manusia algoritma dan kembali menjadi manusia Ilahi. Bukan berarti anti teknologi, tapi menundukkan teknologi di bawah nilai tauhid. Bukan berarti menolak kenyataan, tapi menjadikan wahyu sebagai fondasi membaca kenyataan. “Warna Allah” (sibghatallāh) adalah satu-satunya celupan yang tak pudar oleh zaman, sementara “warna dunia” — viralitas, kapital, algoritma — hanyalah topeng yang akan runtuh bersama ilusi dunia.
Manusia algoritma bukan tak bisa diselamatkan, masih ada jalan pulang — kembali kepada kebenaran yang bersumber dari Allah, kembali kepada keberanian, kejujuran, dan keadilan. Berhenti menjadi manusia algoritma; jadilah manusia yang dicelup oleh nilai Ilahi. Karena hanya dengan itulah kita mampu menyebut yang zalim sebagai zalim, dan menyebut yang haq sebagai haq — meskipun menyakitkan. Tapi itulah tanda bahwa kita masih manusia, bukan produk algoritma.
Tinggalkan komentar di bawah ini, atau kirim tanggapan pribadi lewat tombol Komentar di atas.